Jumat, 07 September 2012

Jejak Syukur


Dahulu kala—haiiyyyah, enggak segitu lamanya kaliii :). Memasuki  pertengahan tahun 1996, seusai pengumuman lulus sekolah menengah atas (SMA), seorang perempuan manis, bertubuh ceking (tapi itu dahulu) tengah gundah.  Enggak tahu, mau punya profesi apa. Enggak terpikir juga mau bekerja dimana. 
Ya, saat itu aku enggak tahu harus berbuat apa. Aku merasa cita-cita sudah kandas. Punya gigi gingsul dan bolong, dengan postur tubuh enggak terlalu tinggi, bagiku—itu artinya cita-cita menjadi perwira polisi hanya sebuah angan.  Ditambah lagi encang encing bilang,  polisi itu banyak disumpahin orang, kerjanya enggak bener, minta duit melulu.

Padahal, menjadi polisi adalah target minimal. Sebelumnya, cita-citaku, tentara Angkatan Udara. Aku membayangkan, terjun payung jadi aktivitas rutinku. Dan yang terhebat, aku  jadi perempuan yang bisa menerbangkan pesawat tempur.  Aku bahkan sempat kesengsem dengan Donny Damara dan Dede Yusuf di film Perwira Ksatria. Wahhh, keren banget…:)

Selanjutnya, saat aku termehek-mehek enggak lulus UMPTN, makin galau. Nangis 2 hari 2 malam, jelas enggak mengubah keadaah, malah makin enggak tahu arah.  Ya, tanpa kusadari, keadaan enggak tentu arah terus membayangi hidupku. Enggak jelas apa mauku dan enggak fokus.

Aku baru menyadari, ketika beberapa bulan lalu suatu kejadian menamparku. Tamparan itu jelas membangunkanku, aku terlalu terbuai mimpi tanpa dibarengi dengan usaha dan kerja keras. Aku terlalu yakin dengan aliran air, terserah mau dibawa kemana. Ternyata aliran air ini tidak membawaku ke tempat yang baik. Singgah di selokan kotor, diluar dugaanku. Tapi, tak berguna penyesalan. Kata Pak Pepeng—salah satu orang hebat yang dengan kuasa Allah, aku mengenalnya, “penyesalan itu mubazir dan sangat tidak produktif.”

Allah Maha Baik, Allah memotivasiku, selalu ada sisi baik walaupun itu datang dari selokan kotor. Yap, dari kubangan ini pun aku belajar  dan memahami hidup, aku jadi bisa mengerti tentang cinta sejati dan arti persahabatan. Alhamdulillah, Allah SWT kirimkan orang-orang yang luar biasa dalam hidupku. Keluarga dan teman-teman yang memberi dukungan penuh.  

Pada akhirnya aku melihat, perjalanan hidupku meninggalkan jejak syukur. Setiap orang punya sekolah khusus yang  hakikatnya bermuara kepada Rabb Yang Maha Berkuasa.  Begitu pun aku. Segala yang telah kualami adalah sebuah sekolah yang khusus untukku. Tempatku menimba ilmu, merasakan setiap getir dan manisnya hidup.

Aku jadi membayangkan. Kalau dulu aku mendaftar jadi polisi, belum tentu juga berhasil lulus. Karena apa? Aku takut dengar suara ledakan, enggak gesit bergerak, mudah panik, malah ada yang bilang aku cenderung Jaka Sembung. Kebayang kan bagaimana menghadapi penjahat kalau polisinya seperti itu.
Apalagi mau jadi pilot pesawat tempur. Haduuhh. Saudara-saudara, ternyata aku takut ketinggian. Naik kereta gantung saja takutnya minta ampun. Mau sok terjun payung dan nerbangin pesawat tempur, please deh…

Mengenai UMPTN. Waktu itu jurusan yang aku pilih adalah Biologi dan Ilmu Pemerintahan. Helllowww, enggak salah tuh. Aku mau ngapain disitu, dua hal itu bidang yang sulit aku mengerti. Allah Maha Tahu keadaan setiap hamba-Nya ya.

Nah, seharusnya aku mengikuti kata hati, suaranya hampir tak terdengar walau aku bisa merasakannya. Masuk jurusan Sastra Bahasa Indonesia. Hanya saja, entah kenapa, dulu aku berpikir, jurusan itu kok sepertinya enggak keren. Ya ampuuun…  Akhirnya, sekarang nih, detik ini, aku malah balik lagi mau belajar sastra Bahasa Indonesia.

Tetapi, dari semua peristiwa yang berlalu itu, Subhanallah. Setiap hidup kita sudah tercatat dalam Lauh Mahfudz. Kehidupanku bergerak dengan rencana Allah. Ketika aku menyimpang, Allah terus mengingatkanku untuk kembali ke jalan-Nya. Tidak lulus UMPTN, itulah awal perjalanan hidupku.
Kala itu, sahabatku yang juga tidak berjodoh masuk perguruan tinggi negeri, mengajakku melanjutkan studi ke perguruan tinggi swasta, dan memilih fakultas komunikasi jurusan jurnalistik. Subhanallah, kampus yang luar biasa.

Karena di sini, Rabb Yang Maha Menjaga diri ini, mengenalkanku kepada sahabat yang luar biasa. Hebat, penuh semangat juang, bekerja keras mencapai mimpi-mimpinya, penuh tekad untuk terus memperbaiki diri, dan insya Allah penuh cinta kepada-Mu Ya Rabb, dan terus berusaha mendapatkan ridha-Mu.

Aku pun merasakan selama ini, Allah swt selalu menuntunku. Dari kampus ini, akhirnya aku menuju sebuah perusahaan yang luar biasa. Aku bekerja dengan orang-orang yang luar biasa juga, sahabat yang selalu istiqamah, dan lagi-lagi modal terbesarnya adalah ridha Allah dan kerja keras. Pun, dari tempatku bekerja, aku bisa bertemu banyak orang hebat, menginspirasi, memberiku pelajaran berharga tentang rasa syukur, dan ilmu yang tak pernah kering. Aku bahkan menjelajah ke banyak tempat yang tak terbayangkan olehku sebelumnya. 

Kini, setelah melewati perjalanan, aku harus mengerti satu hal. Aku harus selalu mendekatkan diriku kepada-Mu Ya Rabb. Karena hanya Engkau Yang Tahu arah tujuanku. Ya Rabb, jagalah sisa umurku. Aku berharap masih bisa memberikan manfaat dari keberadaanku di bumi-Mu.

Ya Rabb, puji syukur kepada-Mu, semua jalan telah Engkau buka untukku. Aku yakin, jalan di depan sana, entah berapa lama lagi aku berjalan, tentulah telah Engkau siapkan pula arah dan perlindungan untukku.
Subhanallah walhamdulillah….