Dahulu kala—haiiyyyah, enggak segitu lamanya kaliii :). Memasuki pertengahan tahun 1996, seusai pengumuman
lulus sekolah menengah atas (SMA), seorang perempuan manis, bertubuh ceking (tapi
itu dahulu) tengah gundah. Enggak tahu,
mau punya profesi apa. Enggak terpikir juga mau bekerja dimana.
Ya, saat itu aku enggak tahu harus berbuat apa. Aku merasa
cita-cita sudah kandas. Punya gigi gingsul dan bolong, dengan postur tubuh
enggak terlalu tinggi, bagiku—itu artinya cita-cita menjadi perwira polisi
hanya sebuah angan. Ditambah lagi encang
encing bilang, polisi itu banyak
disumpahin orang, kerjanya enggak bener, minta duit melulu.
Padahal, menjadi polisi adalah target minimal. Sebelumnya,
cita-citaku, tentara Angkatan Udara. Aku membayangkan, terjun payung jadi aktivitas
rutinku. Dan yang terhebat, aku jadi
perempuan yang bisa menerbangkan pesawat tempur. Aku bahkan sempat kesengsem dengan Donny
Damara dan Dede Yusuf di film Perwira Ksatria. Wahhh, keren banget…:)
Selanjutnya, saat aku termehek-mehek enggak lulus UMPTN,
makin galau. Nangis 2 hari 2 malam, jelas enggak mengubah keadaah, malah makin
enggak tahu arah. Ya, tanpa kusadari,
keadaan enggak tentu arah terus membayangi hidupku. Enggak jelas apa mauku dan
enggak fokus.
Aku baru menyadari, ketika beberapa bulan lalu suatu
kejadian menamparku. Tamparan itu jelas membangunkanku, aku terlalu terbuai
mimpi tanpa dibarengi dengan usaha dan kerja keras. Aku terlalu yakin dengan
aliran air, terserah mau dibawa kemana. Ternyata aliran air ini tidak membawaku
ke tempat yang baik. Singgah di selokan kotor, diluar dugaanku. Tapi, tak
berguna penyesalan. Kata Pak Pepeng—salah satu orang hebat yang dengan kuasa
Allah, aku mengenalnya, “penyesalan itu mubazir dan sangat tidak produktif.”
Allah Maha Baik, Allah memotivasiku, selalu ada sisi baik
walaupun itu datang dari selokan kotor. Yap, dari kubangan ini pun aku belajar dan memahami hidup, aku jadi bisa mengerti tentang
cinta sejati dan arti persahabatan. Alhamdulillah, Allah SWT kirimkan
orang-orang yang luar biasa dalam hidupku. Keluarga dan teman-teman yang
memberi dukungan penuh.
Pada akhirnya aku melihat, perjalanan hidupku meninggalkan
jejak syukur. Setiap orang punya sekolah khusus yang hakikatnya bermuara kepada Rabb Yang Maha
Berkuasa. Begitu pun aku. Segala yang
telah kualami adalah sebuah sekolah yang khusus untukku. Tempatku menimba ilmu,
merasakan setiap getir dan manisnya hidup.
Aku jadi membayangkan. Kalau dulu aku mendaftar jadi polisi,
belum tentu juga berhasil lulus. Karena apa? Aku takut dengar suara ledakan,
enggak gesit bergerak, mudah panik, malah ada yang bilang aku cenderung Jaka
Sembung. Kebayang kan bagaimana
menghadapi penjahat kalau polisinya seperti itu.
Apalagi mau jadi pilot pesawat tempur. Haduuhh. Saudara-saudara,
ternyata aku takut ketinggian. Naik kereta gantung saja takutnya minta ampun.
Mau sok terjun payung dan nerbangin pesawat tempur, please deh…
Mengenai UMPTN. Waktu itu jurusan yang aku pilih adalah
Biologi dan Ilmu Pemerintahan. Helllowww, enggak salah tuh. Aku mau ngapain
disitu, dua hal itu bidang yang sulit aku mengerti. Allah Maha Tahu keadaan
setiap hamba-Nya ya.
Nah, seharusnya aku mengikuti kata hati, suaranya hampir tak
terdengar walau aku bisa merasakannya. Masuk jurusan Sastra Bahasa Indonesia.
Hanya saja, entah kenapa, dulu aku berpikir, jurusan itu kok sepertinya enggak
keren. Ya ampuuun… Akhirnya, sekarang
nih, detik ini, aku malah balik lagi mau belajar sastra Bahasa Indonesia.
Tetapi, dari semua peristiwa yang berlalu itu, Subhanallah.
Setiap hidup kita sudah tercatat dalam Lauh Mahfudz. Kehidupanku bergerak
dengan rencana Allah. Ketika aku menyimpang, Allah terus mengingatkanku untuk
kembali ke jalan-Nya. Tidak lulus UMPTN, itulah awal perjalanan hidupku.
Kala itu, sahabatku yang juga tidak berjodoh masuk perguruan
tinggi negeri, mengajakku melanjutkan studi ke perguruan tinggi swasta, dan memilih
fakultas komunikasi jurusan jurnalistik. Subhanallah, kampus yang luar biasa.
Karena di sini, Rabb Yang Maha Menjaga diri ini, mengenalkanku
kepada sahabat yang luar biasa. Hebat, penuh semangat juang, bekerja keras
mencapai mimpi-mimpinya, penuh tekad untuk terus memperbaiki diri, dan insya
Allah penuh cinta kepada-Mu Ya Rabb, dan terus berusaha mendapatkan ridha-Mu.
Aku pun merasakan selama ini, Allah swt selalu menuntunku. Dari
kampus ini, akhirnya aku menuju sebuah perusahaan yang luar biasa. Aku bekerja
dengan orang-orang yang luar biasa juga, sahabat yang selalu istiqamah, dan
lagi-lagi modal terbesarnya adalah ridha Allah dan kerja keras. Pun, dari
tempatku bekerja, aku bisa bertemu banyak orang hebat, menginspirasi, memberiku
pelajaran berharga tentang rasa syukur, dan ilmu yang tak pernah kering. Aku
bahkan menjelajah ke banyak tempat yang tak terbayangkan olehku
sebelumnya.
Kini, setelah melewati perjalanan, aku harus mengerti satu
hal. Aku harus selalu mendekatkan diriku kepada-Mu Ya Rabb. Karena hanya Engkau
Yang Tahu arah tujuanku. Ya Rabb, jagalah sisa umurku. Aku berharap masih bisa
memberikan manfaat dari keberadaanku di bumi-Mu.
Ya Rabb, puji syukur kepada-Mu, semua jalan telah Engkau
buka untukku. Aku yakin, jalan di depan sana, entah berapa lama lagi aku
berjalan, tentulah telah Engkau siapkan pula arah dan perlindungan untukku.
Subhanallah walhamdulillah….